Tampilkan postingan dengan label Goresan Penuh Makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Penuh Makna. Tampilkan semua postingan

Plus Satu

29 April 2026

Rasanya nggak afdol kalau nggak posting apa-apa hari ini. Jadi, meskipun aku nggak tahu ke mana arah postingan ini, aku tetap gaspol aja ngetik. Biarkan jari-jari bekerja secara alami. Sekalipun ini bakalan random atau mungkin... terlampau singkat untuk sebuah postingan. 

Hari ini aku dapat karya spesial dari teman virtual aku. Gambarnya begitu personal karena ada avatar Slowly aku, daun semanggi empat, dan ada alien juga dong. Tau aja aku suka kedua itu. Oh iya, ada setengah matahari yang bersinar juga. Aku dikasih muda sebulan pula. Makasih banyak, teman virtual aku! Aku suka banget gambarnya!

Pengalaman Vaksinasi Meningitis dan Polio untuk Umroh

1 Oktober 2025

Sore-sore aku berangkat ke rumah sakit deket rumah. Aku nggak sendiri, aku bersama beberapa anggota keluarga. Suasana rumah sakit bisa dikatakan sepi. Orang-orang yang punya kebutuhan bisa dihitung jari. Saat baru datang, rasanya kayak excited sama nervous dikit, soalnya ini salah satu tahapan buat persiapan umroh. Yap, aku mau vaksin meningitis dan polio karena wajib. Kewajiban vaksinasi polio selain meningitis ternyata baru diberlakukan April 2025 (berdasarkan rilis berita ini).

Decluttering? Easy to Say, Hard to Do

26 Agustus 2025

Aku rasa postingan kali ini mungkin akan relate bagi sebagian orang.

Aku selalu merasa ada semacam prinsip legendaris yang diturunkan dari keluarga: prinsip “simpan aja, siapa tahu nanti dibutuhkan.” Kayak prinsip ini tuh udah mendarah daging entah sejak kapan. Bahkan sampai hari ini, aku masih sering banget ketemu barang random di tas atau lemari, terus mikir, “kenapa aku masih punya ini?” Tapi ujung-ujungnya, tetap aja aku biarin di situ. Hmm...

Salah dua yang berhasil aku sortir tiap lagi good mood adalah struk ATM dan struk pembelian. Dulu aku punya kebiasaan nyimpen struk ATM di dompet dan juga dalam tas. Masalahnya, struk itu jika dibiarkan terlalu lama cuma numpuk jadi kertas kosong yang tintanya udah hilang tertelan waktu. Aku pernah nyimpan banyak struk kosong. Pas ada salah satu struk yang tintanya masih oke, siapa sangka ternyata itu keluaran dua ribu sembilan belas. 

Selain itu, ada juga struk pembelian. Contoh: belanja bulanan atau beli skincare atau aksesoris handphone, kadang aku suka simpen struknya. Kalau buat garansi aktif, masih masuk akal ya. Tapi kalau cuma menyimpan karena enggan membuang, rasanya pengen nyadarin diri aku saat itu juga. Aku bahkan ketawa sendiri pas nemuin struk pembelian kopi dari beberapa tahun lalu. Apa gunanya? Nggak ada. Tapi tanganku berat banget buat buang.

Untuk struk ATM dan struk pembelian, aku udah biasain buat nggak perlu nyimpan itu. Soal histori rekening kan udah bisa diakses lewat ponsel. Sedangkan, struk pembelian, kalau nggak penting ya ikhlaskan aja buat dibuang.


Nah, kalau yang ini agak berat nih. Kotak barang. Bisa dikategorikan jadi guilty pleasure aku nih. Misalnya punya parfum baru, aku sayang banget sama packaging-nya. Boks itu rasanya kayak bagian dari experience. Jadi meskipun parfumnya udah aku pakai (bahkan sampai habis), boksnya masih aku simpen rapi di lantai, di laci, atau di sudut mana. Alasannya? Nanti bisa jadi konten. Tapi ya gitulah, kontennya nggak pernah belum jadi-jadi. Kotaknya malah jadi ngabisin space, numpuk kayak tumpukan dosa yang berawal dari sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.

Begitu juga sama kabel random. Charger lama, kabel USB yang udah nggak compatible, atau earphone rusak. Aku masih keep dengan harapan: nanti siapa tahu masih berfungsi. Tapi kenyataannya, bertahun-tahun tetap nggak berguna. Yang ada malah jadi sarang debu.

Aku Menemukan Foto Ini Setelah Sepuluh Tahun Berlalu

21 Agustus 2025

Aku sering banget iseng ngecek statistik blog. Entah kenapa, ada kepuasan tersendiri tiap lihat grafik naik turun naik. Kemarin, aku cukup dibuat kaget pas lihat view blogku naik signifikan. Lumayan tajam juga lonjakannya, sampai bikin aku mikir, “Hah, ada angin apa nih? Kok tiba-tiba rame?” Biasanya jumlah view-nya nggak segininya. Jadi ya otomatis aku kepo, cari tahu postingan mana yang lagi banyak dibaca orang.

Ternyata oh ternyata, postingan tentang ketemu Raditya Dika yang jadi magnetnya. Saat itu aku suka nulis pakai kata gue-lo. Aku langsung senyum sendiri, “Ah, postingan lawas ini ternyata masih ada yang baca.”

Throwback ke masa itu.

Aku inget banget, hari itu aku niat banget ke Malang Town Square buat ikut acara meet and greet plus signing buku “Koala Kumal”-nya Raditya Dika. Aku datang sendirian dan waktu itu aku bener-bener nekat aja. Demi bisa lihat dan ketemu langsung penulis favorit, I was like, “Ya udahlah, gas pokoknya!” 

Sampai sana sekitar jam dua siang, dan aku beneran nggak nyangka kalau antriannya udah semengular itu, udah sampai ke luar toko buku Gramedia. Aku syok! Rasanya pengen pulang aja. Tapi ya masa udah capek-capek ke sana terus balik gitu aja? Jadi aku tahan. Aku ikut ngantri, dan jujur itu geraknya cuma secuil tiap beberapa menit. Untungnya aku bawa buku Koala Kumal yang mau ditandatangin nanti, lumayan bisa nge-distract rasa bosan. 

Nah, di tengah kebosanan itu, aku buka BBM (iya, BBM yang sekarang udah RIP itu). Aku liat status temen kampusku, sebut aja Afgan. Statusnya singkat tapi bikin aku kaget: "Antriannya... Wow... :O"

Aku langsung bales, "Lo di mana, Gan?"

Dia jawab, "Gue dekat buku masakan, lo di mana?" 

Ternyata dia pinter juga, nggak ikut antri dari luar. Dia pakai jalan pintas, naik tangga dari Gramedia lantai satu ke lantai dua. Aku mikir, “Gila, kenapa aku nggak kepikiran dari tadi?” Akhirnya aku ikut cara dia, dan bener-bener menghemat waktu serta tenaga. Jadi, makasih banget, Gan… eh, Afgan maksudnya.

Acaranya berlangsung dengan lancar meski hanya dua jam. Aku pun berhasil dapat tanda tangan di bukuku dan tentu aja foto bareng sama Raditya Dika.


Dan ini gong-nya. Aku baru nyadar sepuluh tahun kemudian kalau ternyata ada foto versi lain yang nggak pernah aku lihat sebelumnya.

Senin Pagi yang Membara

23 Mei 2025

Hari itu hari Senin. Langit masih setengah gelap. Aku, beberapa anggota keluarga, dan suasana pagi yang nggak neko-neko. Semua masih terasa normal. Kami bersiap untuk perjalanan keluar kota untuk keperluan medis yang nggak bisa ditunda, jadi kami udah bersiap dari malam sebelumnya.

Sebelum benar-benar berangkat, aku sempat berdiri di depan rumah. Pamitan dulu dengan dua saudaraku yang nggak ikut. Kami berbicara sejenak, saling kasih salam, lalu aku masuk mobil. No bad feeling. Seingatku nggak ada firasat apa-apa. Just a regular Monday morning.

Belum ada sepuluh menit kami meninggalkan rumah, tiba-tiba ada suara notifikasi masuk ke HP saudaraku yang duduk di sebelahku. Dia lihat, terus terdiam. “Eh... katanya ada kebakaran di XXXXXX,” katanya sambil menatap kembali pesan dari temannya yang kebetulan lewat lokasi kejadian.

Lalu masuk lagi chat berikutnya. Dan kali ini... boom. Lokasi spesifiknya disebut. Itu bener-bener cuma beberapa langkah dari rumahku. 

Jantungku langsung berdebar. Aku langsung chat saudaraku yang masih di rumah dan benar, ada kebakaran di sekitar rumah. Saudaraku sempat mengaku syok lantaran ada suara boom sampai tiga kali.

Saat itu posisi mobil kami udah di Jalan Poros Sangatta - Bontang. Kami nggak bisa putar balik. Perjalanan harus lanjut, tapi hati ini rasanya kayak ditarik ke belakang. Ingin pulang. Ingin lihat. Ingin bantu. Tapi nggak bisa.

Sepanjang jalan aku terus scroll medsos, menunggu kabar dari beberapa akun Sangatta, sambil tetap komunikasi sama saudara yang tinggal di rumah. Dia bilang pemadam kebakaran udah datang, masih proses pemadaman.

Total ada empat rumah dan beberapa kendaraan roda dua yang dilalap si jago merah.  


Sebelum & Sesudah


Aku terduduk diam. Di dalam mobil. Lihat langit yang masih agak gelap, tapi sekarang terasa lebih mencekam. Pikiran udah kemana-mana. What if kami belum berangkat waktu itu? What if rumah kami ikut terbakar? Semua ‘what if’ itu muter di kepala tanpa henti. 

Aku benar-benar bersyukur. Bersyukur kami dan orang-orang rumah selamat. Bersyukur api nggak menyambar lebih luas. Bersyukur rumah dan segala isinya aman. Tapi di sisi lain... juga sedih. Karena mereka yang rumahnya terbakar, kehilangan segalanya dalam hitungan menit. 

Ke-2X

29 April 2025

01:00 AM. Awal menulis.
01:46 AM. Selesai menulis.

Sambil berpikir dan terus mengetik, aku turut melibatkan indera pendengaranku. Di sini hujan. Aku udah dengerin suara hujan deras malam ini sejak beberapa menit yang lalu. Semakin deras seiring berjalannya waktu. Rasanya saat ini, satu persatu kenangan lama dipanggil keluar dari tempatnya sembunyi. Tanpa dikasih aba-aba, tiba-tiba aja postinganku 13 tahun lalu terlintas di kepala. Postingan ini.

Postingan waktu aku masih 16 tahun. Masih remaja. Masih lugu. Masih percaya kalau dunia bakalan baik-baik aja asal kita punya niat baik.



Aku nulis panjang waktu itu, bener-bener curhat mode on. Ngucapin ulang tahun ke diri sendiri, nulis postingan blog dengan leluasa karena sedang sendiri, nulis banyak harapan seakan semua tampak memungkinkan untuk terwujud.

Baca postingan itu sekarang tuh rasanya... nano-nano. Antara mau ketawa sendiri, bikin terdiam sejenak karena ternyata udah belasan tahun berlalu, sama pengen peluk dan pukpuk-in diri sendiri sambil bilang "thank you for surviving this far."

Iqbaal dan Angga

11 September 2022

Hai, hai!

Di tahun 2022 mungkin ada aja segelintir manusia yang nggak tahu siapa itu Iqbaal Ramadhan, siapa itu Angga Yunanda. Itu bukan suatu kemustahilan.

Sumber: instagram/anggayunandareal16

Aku pernah menjadikan mereka berdua sebagai 'wajah' dari dua karakter utama ceritaku, Cerita Tentang Kita (#CTK).

Ceritanya nggak jauh-jauh dari kehidupan masa SMA yang penuh warna dan pastinya seru.

Cerita ini pernah dibukukan oleh penerbit LeutikaPrio, lalu beberapa tahun setelahnya, terbit dalam bentuk e-book oleh penerbit Bhuana Sastra.


Memang bias sih, tapi asli aku bucin banget sama cerita ini. Saking niatnya sama CTK, aku sampai bela-belain bikin book trailer

Tangga

1 September 2022

Hai, hai!

Proses pembangunan kamar di lantai atas masih berlangsung hingga saat ini. Sudah hampir tiga bulan dan masih belum rampung.

Ada banyak hal yang harus aku kerjakan begitu kamar sudah selesai 100% seperti mendekor kamar, juga kembali bikin video YouTube karena sudah dari lebaran kemarin nggak pernah upload lagi. 

Entah apa konsep bangunannya. Yang jelas di bagian samping ada lorong buat terapi kaki. Banyak bebatuan pipih yang sudah ditaburi sepanjang lorong. Jujur, sepertinya aku akan sangat jarang memanfaatkannya, sebulan beberapa kali sudah termasuk banyak, kurasa.


Di paling ujung ada tangga lurus ala ala tangga kolam renang buat ke area rooftop. Pertama kali coba naik ini, wah super duper ekstrem pokoknya bagi aku yang lumayan takut ketinggian. Bahkan baru sampai separuh jalan aku sudah hampir menyerah. Hahaha. Sedangkan Bapak sudah ada di atas lebih dulu. Karena sedikit curiga karena aku nggak kunjung menampakkan batang hidung, Bapak pun mengintip, sambil berseru "ayo naik!" di saat aku mulai pesimis. Habisnya rasa takut tiba-tiba makin menjadi-jadi. Daripada naik ragu dan turun juga ragu, lebih baik naik dengan perlindungan ekstra, pegangan kuat kuat.

Banjir Sangatta

20 Maret 2022

Hai, hai!

Entah faktor hujan secara terus menerus hingga debit air terlampau tinggi, kotaku kini terkena musibah banjir. Beberapa wilayah terdampak banjir, bahkan tinggi airnya ada yang sampai 2 meter lebih.

Dokumentasi Pribadi

Aku sempat diajak adikku berkeliling. Melewati Bukit Pelangi, Jalan Pendidikan, Jalan Dayung, hingga Jalan Yos Sudarso IV. Beberapa titik termasuk tinggi memang airnya.

Sepanjang aku tinggal di kota ini, amat jarang terjadi musibah banjir. Seingatku, pernah sekali, waktu aku masih duduk di bangku SMP. Kalau nggak salah ingat, tingginya melebihi lutut. Berharap itu jadi yang terakhir, tapi rupanya tahun 2022 musibah ini terulang kembali.

Hingga postingan ini dipublikasikan, masih banyak area yang terkena banjir. Di akun instagram Sangattaku dan akun-akun sejenisnya, sejak beberapa jam lalu terus memberi update informasi mengenai lokasi banjir, info donasi, posko, dan lain sebagainya.


Berharap segera surut secepatnya, lalu bisa kembali beraktivitas dengan normal, seperti sedia kala. Amiin.

post signature

Kilas Balik 2020

2 Januari 2021

Hai hai!

Dua ribu dua puluh. Usai sudah.

Tahun lalu, kuhabiskan lebih banyak waktu di rumah, dengan pikiran yang penuh dan hampir nggak pernah bisa diam. Jam tidur yang semula cukup normal jadi ya-jam-satu-bisa-tidur-itu-udah-bagus. Pandemi datang nggak tahu diri, melenyapkan beberapa rencana yang sudah dipupuk sejak lama. Meski begitu, aku rasa tentu nggak semuanya pahit.


Oke, flashback dulu ya!

1. WISUDA DARING
Hal paling nano-nano di tahun 2020 buatku ya... wisuda. Kebayang nggak sih, daftar wisuda bulan September 2019, dapat jadwal yang seharusnya bulan April, tapi karena pandemi ini jadinya diundur ke bulan Oktober 2020? Ujung-ujungnya wisuda daring. Tanpa dikirimi seperangkat perlengkapan wisuda pula, minimal dapat toga, berhubung sudah dibayar lunas juga. Nyatanya nggak dapat. 

2. E-BOOK CERITA TENTANG KITA TERBIT



Salah satu ceritaku yang bikin gagal move on saking sayangnya. Bisa dibaca di Gramedia Digital (klik: di sini). Penerbit Bhuana Sastra.

Akhirnya Wisuda!

17 Desember 2020

Hai hai!

Postingan ini awalnya diketik sekitar hampir dua bulan yang lalu, tapi baru tuntas hari ini. Jadi, yah... izinkan aku mengabadikan momen ini. Momen yang sebenarnya sudah aku idam-idamkan sejak masih berstatus 'maba'.

Saat itu harapanku tidak jauh dari semoga bisa lulus tepat waktu dan juga semoga bisa lulus bareng temen-temen. Akan tetapi, mimpiku kandas begitu memasuki semester akhir. Tanggung rasanya, tinggal satu semester lagi. Aku pikir semua akan baik-baik saja selama kita berusaha, tapi nyatanya ada saja hal-hal yang di luar kendali, yang membuatku mau nggak mau harus memperpanjang semester.

Tahun 2019 termasuk tahun yang berat bagiku. Hari-hari panjang nan melelahkan bersama tugas akhir. Tidak ada gairah lagi akan hal-hal yang aku sukai, seperti buku dan menulis, yang bagiku adalah lebih dari sekadar teman. Dan, yang paling membuatku down saat mengetahui Ibu sakit. 

Yudisium berlangsung pada bulan Juli tahun lalu. Aku putuskan tidak langsung daftar wisuda dan memilih untuk pulang, kembali ke 'rumah'. Dua bulan setelahnya, barulah aku daftar wisuda sambil memperkirakan kemungkinan jadwal wisuda. Semoga sebelum pergantian tahun, harapku.

Menunggu tiga bulan lebih, aku rasa itu sudah penantian yang cukup panjang. Teman-teman dari kampus lain, satu per satu bahkan lebih dulu wisuda. Sabar, sabar. 

Lalu, pandemi coronavirus hadir dan membuat masa tungguku semakin terasa tak berujung.

Faktanya, untuk sampai hari wisuda, aku butuh waktu satu tahun satu bulan lamanya!

Memang benar, manusia bebas berencana, tapi ada kuasa-Nya menentukan dan mengendalikan segalanya.

Hari wisuda kala itu benar-benar campur aduk. Ke Malang bersama, kumpul bareng keluarga, pada akhirnya itu hanya jadi wacana.

Berhubung tak ada foto bareng keluarga di hari spesial itu, karena anggota keluarga ada yang di luar kota, jadi aku request foto ilustrasi ini sebagai kenang-kenangan. Digabungkan dari beberapa foto supaya jadi satu frame. 


Big thanks to ilustrasibykai via Moselo!

post signature

Pasti Tersampaikan

18 Oktober 2018



Teruntukmu, selamat ulang tahun :)
For me, you're special.

Enam tahun lalu aku pernah menuliskan
'Umurmu memang semakin menua dimakan oleh waktu. Perubahan yang menonjol mungkin tak terlihat untuk sekarang tapi, nanti pasti akan ada perubahan-perubahan menarik yang terjadi padamu' di blog ini.

Dan, ternyata itu terbukti.

Selamat ulang tahun ke-23 ya... 
Semoga kamu selalu dilimpahkan kesehatan dan kebahagiaan.

Kelak jika kamu membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa aku sudah banyak menuliskanmu di tempat lain, yang menunggu untuk ditemukan, yang menunggu untuk dibaca, dan hanya aku dan kamu saja yang tahu tempat itu di mana.

post signature

First Study Excursie #SBY

27 Oktober 2016


Tanggal 17 Oktober kemarin, aku dan temen-temen sekelas (-1) untuk kali pertama melakukan study excursie (SE) ke luar kota. Kunjungan pertama ini nggak jauh jauh amat, masih di kisaran provinsi Jawa Timur juga, yaitu ke kota Surabaya. Jam 7 pagi ngumpul di INBIS buat briefing dan membicarakan hal-hal lainnya. Sambil nunggu temen-temen yang pada belum datang juga. Jam setengah 8 kita udah di dalam bis pion. Siap berangkat menuju Surabaya. Let's go! 

Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam. Beruntung deh laju bis nggak begitu laju nggak begitu pelan juga. Waktu dua jam juga nggak jadi persoalan karena ada temen ngobrolnya. Jadi sepanjang perjalanan, ngobrol mulai dari yang penting sampai nggak penting penting amat, selfie dengan berbagai pose, ngemil ngemil cantik, sampai duduk manis doang karena nggak tau mau ngapain lagi. HAHA!


Tujuan pertama kita adalah Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur yang terletak di kota Surabaya. Namun di sini kita lebih mendalami mengenai kearsipannya. Ada banyak ilmu yang didapatkan di sini mulai dari materi arsip statis, arsip inaktif, hingga arsip digital. Cara pengelolaannya, cara akuisisi arsip, dan sebagainya. Bisa ngelihat arsip-arsip yang sebelumnya belum pernah ditemui secara langsung pula. 

Meskipun dikejar durasi namun itu nggak jadi masalah.

Surganya buku, Big Bad Wolf Surabaya!

21 Oktober 2016


Dua hari yang lalu, tepatnya hari Rabu tanggal 19 Oktober 2016, aku dan kakakku bela-belain ke Surabaya naik kereta demi Big Bad Wolf. Sebenarnya acaranya baru dibuka esok harinya tapi karena aku dapat VIP pass jadinya H-1 bisa masuk ke venue. Biarpun pada kenyataannya, nggak pakai VIP pass juga bisa masuk. Soalnya nggak ada pemeriksaan VIP pass. So? -_-


Acaranya sendiri berlangsung di JX International (dulunya Jatim Expo). Dari stasiun Wonokromo (yap! Aku turunnya di sini) mayan dekat dengan JX International. Kemarin nyoba jalan kaki dari stasiun ke JXI dan ternyata... gilaaak! Panasnya Surabaya bener-bener bikin hayati lelah. Kalau naik kendaraan lima menit bisa langsung sampai, tapi kalau jalan kaki hampir setengah jam sih. (Udah valid datanya kok -_- Berdasarkan pengalaman.)


Baru masuk JXI, pemandangan indah langsung terpampang nyata. Jutaan buku, men! Genrenya juga bermacam-macam. Aku pribadi langsung ngacir ke bagian buku anak dulu baru ke bagian yang lain. Siap-siap kalap mata, ngasal ambil buku, dari buku yang pengen banget sampai yang diambil cuma karena alasan covernya lucu. Tapi berhubung budgetku minim, nggak banyak banyak banget, jadinya sampai ke kasir aku cuma beli enam buku. Empat di antaranya buku anak! (Akhirnya kesampaian juga punya buku anak import)

Berwisata ke kawasan Puncak merupakan salah satu pilihan traveling akhir pekan yang cukup sering dijadikan pilihan oleh warga ibu kota. Lokasi puncak yang cukup mudah dijangkau dan dekat dengan ibu kota menjadi salah satu alasan mengapa warga ibu kota berwisata ke kawasan puncak pada akhir pekan atau bahkan saat liburan panjang.

Selain jaraknya yang dekat dengan ibu kota, udaranya yang segar dan hijaunya pemandangan kebun teh juga menjadi daya tarik mengapa harus traveling ke Puncak. Apalagi sambil ditemenai jagung rebus dan jagung bakar dan hangatnya bandrek, berasa banget khas Puncaknya! Banyak warga ibu kota atau traveler dari daerah lainnya berkunjung ke Puncak pada sore menjelang malam hari. Mereka rela bermacet macetan di sepanjang pintu tol Jagorawi – Ciawi untuk menikmati segala keindahan Puncak.

Saat malam hari tiba banyak kendaraan yang menepikan kendaraannya untuk menikmati indahnya puncak pada malam hari. Hal ini tentu menjadi penyegar pikiran dan mata setelah sepekan penuh beraktivitas. Selain keindahan malamnya yang menjadi pemikat,  Kawasan Puncak juga terdapat banyak tempat wisata menarik seperti Taman Safari, Kebun Raya Cibodas, Taman Bunga Matahari, Masjid At-Ta’awun dan masih banyak yang lainnya.

Dengan banyaknya obyek wiata yang ada di Kawasan Puncak, membuat liburan di kawasan ini terasa tak cukup sehari. Oleh sebab itu tersedia banyak vila dan hotel di kawasan ini, mulai dari hotel kelas melati sampai hotel berbintang. Tentu harga dan fasilitas serta pelayanan yang diberikan beragam. Salah satu hotel yang tersedia di kawasan Puncak adalah Novus Giri Resort & Spa.

Novus Giri Resort & Spa beralamat di Jalan Sindanglaya Nomor 180 Cipanas-Puncak. Lokasi hotel ini juga cukup strategis karena dekat dengan beberapa obyek wisata di Puncak seperti Taman Safari dan Kebun Raya Cibodas dan Telaga Warna. Puncak Gunung Gede dan hijaunya perkebunan teh juga menjadi pemandangan yang ditawarkan saat menginap di hotel ini.

Sumber: tripadvisor.com

Menginap di Novus Giri Resort & Spa kesan alami begitu terasa karena furniture hotel ini terbuat dari batuan alam, marmer dan kayu. Novus Giri Resort & Spa memiliki kamar sebanyak 111 dan dibagi menjadi beberapa tipe seperti Superior Garden View, Deluxe, Deluxe Pool View, Garden View Suite, dan Valley View Suite. Salah satu kamar dengan rate paling murah di hotel ini adalah Superior. Meskipun ratenya murah namun fasilitas yang didapatkan cukup lengkap.
Kamar dengan tipe Superior di desain dengan balkon menghadap ke taman sehingga membuat momen bersantai di balkon terasa begitu menyegarkan. Ukuran kamarnya juga cukup luas sehingga cukup nyaman untuk beristirahat. 

Sumber: tigerlilysbook.blogspot.com

Kamar mandi hotelnya juga cukup bersih dengan ameneties yang juga lengkap. Namun sayangnya wastafelnya diluar kamar mandi, jadi untuk yang terbiasa melakukan aktivitas seperti cuci muka dan gosok gigi di kamar mandi harus bolak-balik. Di dalam juga disediakan fasilitas penunjang seperti safety box, TV, meja, sofa, pemanas air, dan pembuat kopi/teh.

Untuk pengunjung yang membawa anak juga tak perlu khawatir si kecil rewel karena di Novus Giri Resort & Spa juga tersedia area bermain anak di Kids Club. Tersedia berbagai mainan edukatif dan menyenangkan di tempat ini dan penjaganya juga ramah.  Selain itu si kecil juga bisa diajak bermain dan melihat kelinci di Rabbit Garden.

Sumber: tigerlilysbook.blogspot.com

Fasilitas yang juga tak boleh dilewatkan untuk dinikmati saat menginap di Novus Giri Resort & Spa adalah spa dan saunanya. Terapi spa di Davia Spa akan merelaksasikan tubuh dengan wangi aroma terapi dan rempah-rempahnya yang cukup menyegarkan. Selain Spa mencicipi kuliner di The Bamboo Restaurant juga menjadi momen yang cukup menyenangkan saat menginap di hotel ini. Menunya beragam, ada rendang, ayam, sayur siomay dan lain sebagainya. Kuenya juga banyak semuanya khas nusantara!

Jangan lupa juga untuk berenang di kolam renang hotel ini. Kolamnya cukup unik ditengahnya terdapat tiga patung kecil yang memancurkan air.

Dengan segala fasilitasnya yang cukup lengkap dan pelayanannya yang ramah, Novus Giri Resort & Spa cocok dijadikan rekomendasi saat mencari hotel dekat puncak, tertarik? 

Langsung saja klik traveloka.com

post signature

Azek! Ketemu dua penulis kece: Devlin Putra dan Kevin Anggara!

23 November 2015


Hidup di Malang memang punya kenikmatan tersendiri. Selain harga pangan yang jauh lebih murah dibandingkan di Kalimantan, di sini juga banyak event yang sayang banget buat dilewatin. Biarpun masih kalah banyaknya sih dengan kota Jakarta, Bandung, dan Jogja.

Dan dua hari yang lalu, gue ikutan event menarik nih! Biarpun hastag yang tepat untuk menggambarkan postingan ini adalah #latepost, tapi yang penting gue mau posting event report di blog kesayangan ini. Buat jadi arsip gitu, lho! #anakperpusarsipgitulho

Nah, event yang gue ikuti ini namanya Bukune Young Stars

Sesuai namanya, pembicara di talkshow (?) ini penulis yang masih muda muda. Atau kasarnya, anggap aja masih muda. #kejam

Yaitu
.
.
.
DEVLIN PUTRA 

dan

KEVIN ANGGARA 


Buat yang belum tahu mereka berdua tapi kayaknya nggak mungkin deh nggak tahu, Devlin Putra itu penulis buku FAK! (Frequently Ask Kuestions) sedangkan si Kevin penulis dari buku Student Guidebook for Dummies. Kalau buku Devlin lebih ke dua tokoh fiktifnya, Tommy dan Lili yang dua-duanya gemesin banget. Sorry, penulisnya nggak termasuk kategori itu. Kalau buku Kevin lebih ke dunia pelajar yang dikemas dengan gaya penulisannya yang bikin nagih buat dibaca. Gue sih udah baca buku mereka berdua dan gue suka!

Balik soal event.. 
Kalau kata gue mah acara Bukune Young Stars ini berlangsung dengan rame, petjah, dan terbilang sukses. Biarpun sempat terjadi lampu mati nyala mati nyala. Beberapa kali. Tapi nggak jadi persoalan.

Penulis-penulis kece!

[My 3rd Book] Dear Iqba(a)l

22 Februari 2015



Status: Coming Soon

post signature

Behind The Scene

27 Januari 2015


Entah kenapa belakangan ini gue jadi demen pergi ke Indomaret. Pagi-pagi sekali, terkadang juga pas sore hari. Sekadar cuci mata lihat makanan minuman yang bertengger di sana untuk melepas rasa lapar (maklum anak kost) ataupun beli sesuatuuuh. Para karyawan Indomaret juga pada ramah, baru selangkah masuk ke dalam sudah disapa. Mau bulan apapun itu, sapaan juga tetap sama. 

"Selamat datang di Indomaret!"

Etdah! Ini bukan bulan Maret. Tapi bulan Januari, woy.

Selain sikap ramah itu, faktor yang membuat gue doyan ke sana adalah pintu Indomaret yang selalu terbuka buat gue. Beda banget sama hati mantan. #eh

*Koleksi kresek dari Indomaret ((panggilan jiwa anak kost))*

Meskipun judul postingan kali ini adalah 'Behind The Scene' bukan berarti gue mau jelasin tentang proses di balik pembuatan kantong kresek Indomaret. Bukan bukannn!

***

Dulu pas TK, ketika ditanya mau jadi apa, gue bilang mau jadi guru. Tepatnya kelas 3 SD, gue punya buku harian pertama gue. Itu dikasih sama bapak gue. Dari situlah, gue jadi suka menulis. Gue sudah dua kali khatam nulis buku diary. Sampai sekarang, gue juga masih suka nulis. Kalau baca ulang tulisan gue waktu zaman SD-SMP-SMA rasanya benar-benar konyol. Seketika flashback ke masa-masa itu. Sejak itu, impian gue ganti haluan menjadi penulis.

Di tahun 2015 ini, gue ada niatan buat bikin buku lagi. Dua tahun lalu, suatu kebanggaan tersendiri ketika dua buku gue telah dibukukan. Yang satu lewat self-publishing, satu lainnya lewat penerbit mayor. Nah, tahun kemarin merupakan masa-masa penuh perjuangan di kelas 12 dan buat masuk perguruan tinggi hingga gue nggak ada waktu sama sekali buat nulis. Nulis buku maksudnya.

Tahun ini gue berharap setidaknya ada satu buku gue yang bisa terbit. Gue punya mimpi yang ingin tercapai yaitu sebelum menginjak umur 40 tahun, minimal sudah ada 10 buku gue yang dibukukan. 

*Plot (calon) novel gue*

Gue sudah kelar menuliskan bab 1 beberapa hari yang lalu. Waktunya untuk meneruskan bab-bab selanjutnya. Baru kali ini gue seriusin banget dalam bikin buku. Sebelumnya, gue nggak sampai nge-print naskah bahkan bikin outline pun enggak sama sekali. Semoga hasilnya memuaskan! Amin.

post signature

Lirik "Cerita Tentang Kita"

25 November 2014



CERITA TENTANG KITA
Cipt. Selvia Sari Rahmawati
-------------------------

Cerita tentang kita kan tetap terukir
Walau kita sudah tak bersama lagi
Ijinkan aku...
Mengenang kisah ini untuk selama-lamanya

Ku takkan pernah bisa
Melupakan dirimu
Walau terus kucoba
Tetapi sia-sia
Tak kumengerti alasannya

*Reff
Cerita tentang kita kan tetap terukir
Walau kita sudah tak bersama lagi
Ijinkan aku...
Mengenang kisah ini untuk selama-lamanya

Biar waktu lah yang 
akan menjawab...
Semua kenangan tentang kita...
Tentang aku dan juga dirimu...
Ooo...

Back to *Reff

Inilah cerita tentang kita...
Tentang aku dan dirimu...

NB: Kebetulan lagi galau maksimal, alhasil iseng deh bikin lirik lagu. Nadanya udah dapat sih. Ntar kalau udah punya gitar sendiri terus bisa mainnya baru deh dicoba... 
*pak guru les gitar yang udah kubooking, pokoknya harus ajarin gue sampai bisa!! Titik! :D #maksa*

Catatan tambahan: Lagu ini bukan curhatttttttttt! :p

post signature

Misi Penjebakan Ultah Pak Ust

13 November 2014


Hai! Kira-kira ada yang penasaran sama postingan yang satu ini nggak ya? 
Intronya udah saya tulis --> di sini loh! 
Siapatahu ini bisa jadi referensi buat yang mau ngerjain 'ehem' atau 'ehem'-nya pas doi ultah. Berhubung faktor ingat mengingat udah mulai memudar ((tapi kalo ingat mantan masih kenceng kok *eh*)), langsung aja ya... \o/ 
*cover masih sama*

Tentunya kurang azek dong kalo nggak dikenalin sama 'para dalang' dari misi penjebakannya.
Karena saya baik hati dan tak kenal maka tak sayang, makadari itu lebih baik saya kenalin aja... 
Oke?

*foto endorsement jaket panda*

*abaikan pose galau saya*

Begitulah sedikit intro dari para tersangka. Kalo ada tersangka, tentunya ada korbannya juga dong...
Nah ini dia korbannya...