Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Pesan Tiket Pesawat di Airyrooms

28 Mei 2018


Di postingan sebelumnya aku bercerita tentang pengalaman aku menginap di salah satu Airyrooms Malang, tepatnya Airy Syariah Sukun Bandahara 21. Kali ini aku mau berbagi pengalaman lagi nih. Sama-sama berhubungan dengan Airyrooms. Bedanya, aku mau sharing pengalaman memesan tiket pesawat di Airyrooms.

Ternyata Airyrooms tidak hanya melayani pemesanan kamar saja, tapi juga tiket pesawat! Wooo!

Sebelum aku tahu caranya booking tiket melalui situs, dulu aku harus memesan langsung di tempat travel. Kurang efektif deh, harus ke sana dulu. Sekarang mah udah canggih, ya? 

Biasanya aku pesan tiket di Traveloka. Berkat dapat potongan harga dari Local Guides, akhirnya aku mulai berkenalan deh sama yang namanya Airyrooms. 

Berlandaskan rasa ingin tahu, aku mencoba untuk kali pertama dalam memesan tiket pesawat di Airyrooms.

Sama seperti waktu memesan kamar, pemesanan tiket pesawat aku lakukan di aplikasi Airyrooms. Jadi cukup mengandalkan ponsel dan koneksi internet saja, gengs. Nanti kalau sudah fix booking, baru deh lanjut ke pembayaran. Karena ponselku berbasis android, jadi aku unduh aplikasinya lewat Play Store. 

Setelah berhasil diinstal, langsung buka aplikasinya.

Aku saranin untuk registrasi dulu (caranya mirip kayak registrasi di media sosial) supaya nantinya pesanan kalian (baik kamar maupun hotel) ada historinya. 



Mencicipi Kenikmatan Buryam di Kota Malang

18 Desember 2014


*balik ke 'gue' bukan 'saya' lagi*
*entahlah*
*biar dibilang gawl*
*nggak deng*

Kalau dihitung kancing kayaknya udah empat bulan lebih gue tinggal di kota yang lagi sering hujan ini. Empat bulan juga gue harus menahan godaan mata yang kadang suka kalap lihat 'barang-barang lucu'. Bawaannya pengen dibawa pulang. Empat bulan pula siklus makan gue nggak teratur semenjak sah jadi anak kos. Awal bulan makan enak di tempat makan elite, pertengahan makan cukup di warteg, dan mirisnya, akhir bulan makan cukup dengan yang ada di dalam kamar kos. 

Bicara soal makan tentunya itu identik dengan kuliner. Nah, kalau bahas soal kuliner di Malang tentu nggak akan ada kata habisnya. Gue sendiri suka wisata kuliner di Kota Paris Van East-Java ini. Mulai dari warung di gang kecil, yang makanannya enak tapi murah meriah, yang enak tapi mahalnya nguras kantong, dan lainnya udah pernah gue rasain. Dari perjalanan cicip mencicip ini, gue paling demen sama yang namanya 'BUBUR AYAM'. Nggak ada hubungannya dengan sinetron ratusan episode itu ya? Nggak ada!

Bisa dihitung jari sih tempat buryam yang gue singgahi. Berikut tiga nominasi buryam terenak versi gue:

Bubur Ayam Abah Odil

Trip to Trenggalek #1: Pencarian Fajar

29 Oktober 2014



Akhirnya ada label baru: Travelling! Uyeee~
Hari gini siapa sih yang nggak suka jalan-jalan apalagi kalau jalan-jalan terus akomodasi, transportasi, asuransi, makan minum, dan tempat tinggal udah ada yang ngurusin. Jalan-jalan gratis? Kayaknya nggak ada yang nggak suka deh. Ya kan? Bener kan?

Jum'at, 24 Oktober 2014
Setelah mempertimbangkan segala sesuatu dengan sangat matang persis kayak mutusin 'ehem' buat jadi 'ehem' aja, akhirnya saya setuju buat ikutan trip ke Trenggalek bareng Mus dan Halim. Singkat cerita, Mus yang akan menjadi tour guide selama perjalanan di sana berhubung dia yang lebih tahu tentang Trenggalek dibanding kita berdua berhubung saya dan Halim sama-sama perantau dari Kalimantan. 

Matakuliah Dasar Pemrograman Komputer berakhir kurang lebih jam 3. Ini lebih cepat dari biasanya. Pertanda bahwa perjalanan saya bareng dua 'yang-katanya-teman'-ku direstui dan diridhoi. Azek! Janjian jam segini, ngumpul jam segini. Maklum, di Indonesia kalau nggak musim ngaret ya musim ngarep. *abaikan* Jam tangan menunjuk pukul setengah 5 dan kita bertiga udah berkumpul di satu titik menunggu kehadiran Asfa. Loh? Kok ada satu orang lagi? Iya, jadi ceritanya saya, Mus, Halim, Asfa, dan Fajar (total: 5 orang, bukan 6) naik di satu bis yang sama hanya saja tempat turunnya beda beda. Setelah Asfa datang dengan mobil biru yang ditumpanginya (baca: angkot), kita bertiga langsung naik. Hiks banget, angkotnya kepenuhan. Mungkin supirnya berharap dapat rekor MURI dalam kategori "penumpang terbanyak dalam satu angkot". Entahlah.

Sampai di pangkalan bis sekitar jam setengah 6-an. Sampai di sini bukan berarti langsung naik bis, duduk dengan lega, terus bilang "Kiri, pak! Trenggalek!". No! No! Karena kita masih menunggu satu orang lagi yaitu Fajar. Suasana terbilang ramai dan untuk mencari 'sosok Fajar' bagaikan mencari satu butir ee kambing di tumpukan butiran chacha cokelat. Saya, Mus, Halim, dan Asfa berpencar menjadi dua tim untuk mencari Fajar. Ke sana ke sini nggak juga ditemukan. Fajar bilang dia sih di dekat tempat hajatan. Etdah, lirik sana sini tempat hajatannya nggak ada tuh. Udah lega lihat sosok yang endut endut di seberang jalan, kirain si Fajar. Dia pakai baju putih. Eh rupanya di PHP-in, itu bapak bapak lagi duduk. Ternyata di PHP-in dua kali itu nggak enak. Saya udah yakin yang di sana itu Fajar terus saya panggil Mus, "Eee... itu Fajar nah, Mus". Orang itu menggerakkan tangan kanannya ke atas ke bawah. Kirain kali ini pencarian Fajar akan berhenti tetapi rupanya nggak, soalnya orang itu rupanya supir angkot yang cari penumpang. Hiks.

Beberapa menit, kita berempat stop mencari Fajar. Berdiri melihat lalu lalang penghuni jalan yang nggak pernah surut. "Heiii!" satu kata itu refleks membuat kita menoleh ke arah sumber suara. Yaps, akhirnya suara Fajar terdengar. Di mana dia? Astaga, di seberang jalan. Konyolnya, Fajar lambai-lambai tangan, dia naik sepeda motor, dan pakai pakaian serba hitam. Kesimpulan: jangan berjalan kaki untuk mencari seseorang yang rupanya naik sepeda motor. 

Ok, kita berlima sudah berkumpul. Tanpa perlu berpelukan ala teletubbies, waktunya menikmati perjalanan dengan alat transportasi umum yaitu bis! Happy travelling! 


-to be continued-

post signature