Slider

Book

Review

Story

Travel

Latest Blog

Black Queen

11 Februari 2021



Great. Worthy. Priceless.



I am that Queen.



A light in the darkness leading the way to greatness within every God-fearing black woman.

post signature

Kirim Paket >100 KG? Lewat Hexa Malang Saja!

7 Februari 2021

Hai hai!

Sekitar bulan November 2019, aku memutuskan untuk mengirim sebagian besar isi kamar kosku, ke mana lagi kalau bukan ke Sangatta. Kebanyakan memang buku, berhubung aku seorang penimbun buku. Dulu. Sekarang mah sudah nggak lagi. Saking mabuk buku, kini aku mulai beralih ke buku digital. 

Awalnya aku ngekos berdua, sampai awal 2017 partner satu kamarku pulang kampung karena sudah lulus lebih dulu. Iya, dia memang angkatan dua tahun lebih tua dariku. Selama di Malang, aku nggak pernah pindah kos, jadi ya... di situ situ aja. Selain karena aman, orang tuaku juga menganjurkan aku buat ngekos di sana karena sudah kenal juga dengan pemilik kosnya. Begitulah.

Gara-gara aku mau pindahan (yang sebenarnya nggak bisa dibilang pindahan karena motor dan secuil barangku masih stay di sana), aku menyadari dengan sangat kalau... barang-barang di kamar ternyata SANGAT BANYAK. 

Berjam-jam aku memasukkan satu demi satu ke dalam kardus rokok. Sebelumnya, aku beli kardus rokok karena ukurannya besar dan bahannya tebal nan kokoh. Belinya tentu saja di Pasar Besar Malang. Setelah finish dengan urusan mengepak, aku takjub karena totalnya tujuh kardus. Yang mana tiap kardusnya tentu saja berat.

Beneran dong berat, buktinya begitu ditimbang, beratnya menembus lebih dari 100 kg. Aku kaget. Bapakku nggak begitu kaget.

Untuk urusan pengiriman, aku percayakan ke ekspedisi Hexa Malang. Jujur saja, ini kali pertama aku gunakan Hexa. Kenapa Hexa? Sebelumnya, aku telah survei ke beberapa ekspedisi. JNE, J&T, dan POS. Tapi, sayang sekali untuk paket seberat itu biayanya tentu saja nggak sedikit. Begitu ke counter Wahana, orangnya menyarankan Lion Parcel dan Hexa. Aku lupa alasannya kenapa aku nggak jadi pakai yang Lion Parcel hingga akhirnya aku percayakan ke Hexa saja.

Tarifnya terbilang terjangkau kalau pakai Hexa. Untuk minimal 30 kg, per kilogram dikenakan 13ribu. Di bawah 30 kg, biayanya akan sama dengan pengiriman 30 kg. Selain itu, aku juga dimudahkan karena adminnya responsif dan paket bisa dijemput di tempat. Perkiraan sampai termasuk cepat, dari Malang ke Sangatta kurang lebih satu minggu saja. 

Pengalaman Kirim Dokumen Penting Melalui JNE

24 Januari 2021

Hai hai!

Kalian pernah kirim dokumen penting lewat ekspedisi?
Atau mungkin, saat ini kalian sedang mempertimbangkan untuk kirim dokumen penting tapi bingung mau pakai ekspedisi apa?


Di sini aku ingin berbagi pengalaman perihal kirim dokumen penting yakni ijazah asli melalui ekspedisi JNE.

Akibat pandemi, wisudaku jadi daring dan aku nggak ada rencana sama sekali untuk menyambangi kota Malang di tengah situasi tak menentu seperti ini. Nah, beberapa hari lalu aku minta tolong bantuan kawan untuk ambil ijazahku. Tentunya pakai surat kuasa dan formulir pengambilan ijazah. Kebetulan kawanku ini tinggal di Malang dan tempat tinggalnya nggak begitu jauh dari lokasi kampus.

Kenapa kirim dokumen pentingnya via JNE? Singkat aja, karena yang terdekat ya JNE.

Aku sama sekali nggak pernah kirim dokumen penting melalui JNE sebelumnya. Sewaktu kawanku bilang mau kirim via JNE, aku hanya bisa berpikiran positif semoga paketnya sampai tujuan dengan selamat.

TIPS KIRIM DOKUMEN PENTING VIA EKSPEDISI APA PUN
1. Pastikan apa yang mau dikirim sudah komplit alias nggak ada yang terlupakan sebelum dikemas
2. Kemas dokumen serapi dan seaman mungkin
3. Tulis nama, alamat lengkap, dan nomor HP penerima dan pengirim
4. Pilih layanan dengan masa pengiriman yang cepat
5. Pakaikan asuransi
6. Berdoa semoga paket sampai tujuan dengan selamat

Di kasusku, pengemasan ijazahku (tentunya sudah ada di dalam map khusus) cukup dibungkus map kertas terus dimasukkan ke dalam map plastik kancing.

Tampilan paketnya saat baru sampai di rumah seperti ini.


Kawanku pakai JNE regular alias JNE REG. Dari Malang (Jawa Timur) ke Sangatta (Kalimantan Timur) dikenakan tarif sebesar 64.000 dan ditambah biaya asuransi 6.000, jadi totalnya 70.000. Aku bisa katakan sampainya CEPAT BANGET, karena hanya DUA HARI saja! Beneran, dua hari aja sudah sampai. Kirim tanggal 21 Januari 2021, sampainya 23 Januari 2021! Aku bisa bernapas lega setelah mengetahui isi paketnya syukurlah aman. 

Sekian dulu postingan aku kali ini. Semoga bisa menjadi referensi untuk kalian yang ingin mengirimkan dokumen penting.

Have a great day! Sampai jumpa di postingan mendatang! :)

post signature

Perjalananku di YouTube

22 Januari 2021

Hai hai!

This is me, Misfil! 

Dua tahun lalu, aku seringkali membuat instastory yang berkaitan tentang kanal YouTube-ku. Itulah saat di mana aku baru kembali ke sana setelah beberapa tahun aku anggurin. 

Aku membuat kanal YouTube saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu aku tertarik dengan lomba yang diadakan salah satu penerbit. Hadiahnya buku! Syarat lomba itu nggak bisa dibilang mudah buat aku yang nggak suka bicara. Yap, aku ditantang untuk bercerita tentang buku favoritku dan itu harus direkam. Hasil rekamannya harus diunggah di YouTube!

Saat itu YouTube bukanlah media daring yang BOOOM seperti saat ini. Aku pun butuh perjuangan hanya untuk sekadar upload. Internet yang kecepatannya seperti siput kala itu, membuatku sampai ketiduran saat menunggu unggahanku selesai. Aku butuh 8 jam lamanya untuk mengunggah satu video berdurasi sekitar hmm-kalau-nggak-salah-kurang-dari-tiga-menitan. Delapan jam? Iya, memang selama itu!

Sayangnya waktu aku mulai kepikiran buat comeback, aku masih nggak terlalu paham tentang YouTube. Dan... dengan sangat menyesal, bukannya aku ganti mode penyimpanannya dari 'publik' jadi 'pribadi', aku justru menghapus video bersejarah itu. :(

Mau bagaimana lagi... 

Sekitar akhir 2017, aku upload video perdanaku tentang book trailer salah satu ceritaku. Aku edit sesuka hatiku dengan menggunakan Movie Maker, satu-satunya software yang tertangkap mataku ada di desktop laptop. Setelah itu, aku mulai mengunggah beberapa video lainnya. Mulai dari book trailer cerita lainnya, vlog ala-ala, tutorial, dan... ya campuraduk isinya. Hingga nggak berasa, sudah seratus video lebih yang aku upload di sana.

Perjalanan YouTube versiku memang nggak singkat. Dapat 100 subscribers pertama butuh berbulan-bulan lamanya. Bahkan sekarang dengan jumlah ribuan subscribers, aku masih jadi orang yang pertama menekan tombol like di video-video baruku. Pernah kudapatkan hate comments di video yang sudah kuedit dengan sepenuh hati, pernah juga nggak kutemukan komentar apa pun di video yang proses take-nya berulangkali.

Ya, begitulah. 

Apa pun kondisinya, dari sana aku belajar untuk terus belajar. 




Jadi, inilah cerita di balik rumah daring kesekianku, YouTube.

Sekian.

post signature

Pertama Kali Gajian dari Fiverr

20 Januari 2021

Hai hai!


Belakangan ini aku lagi senang dengerin lagu-lagu Lee Seung Gi. Album terbarunya yang berjudul The Project berhasil jadi teman klopku. Sekali dengar sudah langsung klik gitu. 

The Project.

Judul album terbaru Lee Seung Gi ini bikin aku teringat akan sesuatu. Yap, di postingan ini aku pengen cerita soal kegiatanku belakangan ini. Setelah wisuda daring beberapa bulan lalu, aku memutuskan untuk kerja mandiri dari rumah. Mengembangkan online shop, bikin konten YouTube, cari project yang bisa kukerjakan di situs freelance.

Baru-baru ini aku coba daftar di Fastwork. Prosesnya nggak terlalu rumit. Hanya saja aku belum buat penawaran jasa di sana.

Sebelum Fastwork, aku lebih dulu daftar jadi freelancer di Fiverr. Aku sudah beberapa kali buat Gigs. Terkadang hapus Gigs-bikin lagi-hapus lagi-bikin lagi, karena batas maksimal buat Gigs untuk No Level seperti aku hanya 7 Gigs saja. 


Aku pecah telor alias dapat orderan pertama di sana yaaa bisa dibilang nggak lama nggak cepat juga, yakni sebulan setelah aku buat Gigs tersebut. Gigs yang laku itu adalah jasa komentar di YouTube. Untuk $5, akan mendapatkan 5 komentar. Kelihatannya sederhana bukan? Tapi kok mahal? Hehehe, buktinya laku juga kan?

Kilas Balik 2020

2 Januari 2021

Hai hai!

Dua ribu dua puluh. Usai sudah.

Tahun lalu, kuhabiskan lebih banyak waktu di rumah, dengan pikiran yang penuh dan hampir nggak pernah bisa diam. Jam tidur yang semula cukup normal jadi ya-jam-satu-bisa-tidur-itu-udah-bagus. Pandemi datang nggak tahu diri, melenyapkan beberapa rencana yang sudah dipupuk sejak lama. Meski begitu, aku rasa tentu nggak semuanya pahit.


Oke, flashback dulu ya!

1. WISUDA DARING
Hal paling nano-nano di tahun 2020 buatku ya... wisuda. Kebayang nggak sih, daftar wisuda bulan September 2019, dapat jadwal yang seharusnya bulan April, tapi karena pandemi ini jadinya diundur ke bulan Oktober 2020? Ujung-ujungnya wisuda daring. Tanpa dikirimi seperangkat perlengkapan wisuda pula, minimal dapat toga, berhubung sudah dibayar lunas juga. Nyatanya nggak dapat. 

2. E-BOOK CERITA TENTANG KITA TERBIT



Salah satu ceritaku yang bikin gagal move on saking sayangnya. Bisa dibaca di Gramedia Digital (klik: di sini). Penerbit Bhuana Sastra.

Akhirnya Pecah Telor di Shutterstock

26 Desember 2020

Hai hai!

Sebagai contributor newbie di Shutterstock, rasanya melihat ada yang unduh foto kita itu senengnya bukan main. Memang sih pendapatan dari itu sangatlah kecil. Hanya 0.10$ per unduhan fotonya. Tapi kalau banyak yang unduh, kan dikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.

Makanya, aku sering baca nih dari Forum Shutterstock Contributor Indonesia di Facebook kalau nyetok foto atau apa pun itu, nyetok ya nyetok aja. Apalagi pas masih awal-awal main SS, kalau bisa nyetok banyak ya lakukan, buruan. Dikit juga nggak masalah, yang penting ada progress. Tapi ya gitu deh, untuk mengerjakan sesuatu itu butuh tekad yang bener-bener kuat. Soalnya godaan ada di mana-mana.

Back to topic.

Akhirnya fotoku ada yang unduh!

Sewaktu awal-awal upload foto ke SS, aku agak kepo, foto manakah yang akan diunduh pertama kali?

Ternyata jawabannya adalah foto ini. Yang download jauh juga ya, dari Mesir. :)))


Salah satu foto yang terselamatkan karena belum aku hapus setelah aku upload ke Google Maps. Foto ini aku ambil sewaktu menginap di guest house Malang. Aku pribadi menyukai foto ini karena komposisinya oke, warnanya cakep, dan ya... suka aja. Dan bukan sesuatu yang mencengangkan juga kalau ada yang suka selain aku.


Semoga kedepannya semakin banyak lagi foto dan video (aku baru mulai unggah video green screen nih, hehe) yang diunduh.

Semoga ya. 

post signature

Satu Bulan Sebagai Kontributor Shutterstock

23 Desember 2020

Hai hai!

Sebagai Local Guides, aku tuh orang yang termasuk rajin unggah foto di Google Maps. Agak kaget sih sewaktu tahu kalau ternyata kita bisa loh jualan foto melalui internet. Apesnya, aku nggak ada back-up foto sama sekali. Jadi foto-foto yang sudah tersematkan di Google Maps nggak bisa aku setorkan ke tempat lain (sebut saja microstock). :( 

Kenapa nggak bisa?

Karena microstock punya beberapa kriteria dalam menetapkan foto unggahan kita approved. Salah satunya adalah ukuran foto minimal 4 MB. *correct me if i'm wrong


Aku pernah coba unduh beberapa fotoku yang dari Google Maps dan taraaa... kualitas fotonya jadi menurun dan ukurannya berubah jadi KB, yang semula seingatku sih MB.

Shutterstock adalah microstock pertama aku coba. Aku pilih Shutterstock karena sudah banyak yang mengulas dan membagikan pengalaman mereka. Dan ternyata memang benar dong, Shutterstock paling rekomen menurutku. Aku bilang begitu karena aku sudah coba beberapa microstock lainnya dan Shutterstock paling cepat memberikan jawaban tentang status foto yang kuunggah, apakah approved or not approved. Jika ditolak, kita akan diberitahu alasannya kenapa. Bisa jadi karena foto kurang fokus, noise, kurang tepat dalam menulis deskripsi, atau alasan-alasan lainnya.